Sabtu, 06 April 2013

Persepsi, Ilusi, dan Realitas

     
     Aku mungkin terlalu bodoh, mengira semuanya untukku. tak tahu kapan harus melangkah dan kapan harus berhenti. Tak tahu apa yang tulus dan tidak, aku serba tak tahu. Namun, semakin lama aku bertahan aku semakin menyadari bahwa aku tak berharga, didepan kamu. Ya, mungkin memang aku bukan orang yang berharga yang perlu kamu pertahankan. Aku hidup dalam persepsiku sendiri, hidup dengan semua angan-angan yang aku buat aku rangkai sedemikian rupa agar alurnya mengikuti pikiranku, tanpa ku tahu ini bukan hanya tentang aku atau mimpiku. Aku membawa orang lain didalamnya yang jelas tak bisa ku kendalikan. Semua ini hanya bayangan ilusi sama seperti lagu, "bayangan ilusi, hanya fantasi" dan mungkin ini seperti itu. 
     Apa sebegitu tak berharganya aku? Aku bahkan tak tahu kapasitas diriku, aku tak tahu bagaimana aku harus menghargai diriku sendiri, sehingga ini balasannya. Tak ada, bahkan tak juga kamu, bisa menghargai aku. Aku hidup dengan semua keluh kesahku, aku hidup dengan semua pikiran negatifku. Bukan, bukan kamu yang salah, tapi aku yang salah menganggap semua sikap baik yang kamu beri. Aku salah menilai baik semua kata-katamu, dan aku jatuh jatuh di dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya. 
     Aku tak lagi akan menangis, tak lagi akan bercerita, tak lagi akan bernyayi, tak lagi akan mengeluh, tak lagi akan berpikiran negatif, tak lagi akan bersuara tentang kamu, aku hanya akan hidup dengan cara yang aku buat, mungkin masih ada kamu di dalamnya, tapi harus aku pastikan bukan kamu segalanya. Aku mungkin hanya akan menunggu dan tak lagi akan berinisiatif. Menunggu, kamu menyadari bahwa aku cukup berharga untuk kamu pertahankan, atau aku cukup memilki harga diri untuk memilih tak lagi bersamamu.