Kadang semua harapan itu tak mesti harus jadi nyata. Mungkin akan hanya jadi sebuah harapan, dan akan terus begitu. Tak ada satu pun hal di dunia ini yang abadi, bahkan sebuah harapan pun kian tak abadi. Dulu pernah berusaha berharap, dan berharap hingga suatu saat nanti berharap apa yang diharapkan itu akan menjadi suatu yang nyata dan bisa kurasa. Namun sekali lagi harapan itu tak mesti harus jadi nyata. Terkadang kita lupa akan diri kita, siapa kita, bagaimana kita, apa adanya kita, dan itu semua hanya karena satu kata saja HARAPAN. Kita selalu berharap, berharap, dan berharap hingga akhirnya kita lupa akan diri kita, telalu sibuk mengurusi harapan-harapan yang belum jelas arah tujuannya.
Terkadang berharap itu menjadi sesuatu hal yang sangat indah, berharap membawa kita pada suatu imajinasi yang sungguh luar biasa. Imajinasi yang hanya milik kita, bisa tertawa bahagia karena harapan itu atau bahkan menangis pilu. Semua itu bisa dilakukan oleh satu kata saja HARAPAN. Dan sekali lagi itu karena satu kata saja. Berharap juga bisa jadi hal yang sangat menyayat hati kala harapan itu hanya sebuah harapan kosong yang tak berarti, bahkan walau hanya satu sen saja!!! Harapan itu terkadang sangat menyakitkan, bahkan sesakit dihujam pisau belati. Harapan itu akan kian menyakitkan kala harapan itu benar-benar takkan pernah lagi bisa terangkai bahkan dalam mimpin sekalipun. Semuanya akan terasa menyesakkan dada, bahkan jauh lebih menyesakkan dari seorang yang asma sekalipun.
Semua memang berawal lagi lagi hanya dari sebuah kata saja HARAPAN, kata itu kini makin jelas maknanya. Setiap orang didunia ini pasti pernah berharap, baik itu harapan baik atau harapan buruk. Dan setiap orang pun pasti merasakan hal yang sama ketika harapannya terwujud atau ketika harapannya tak terwujud. Ya, dan nyatannya harapan itu terkadang bahkan mungkin bisa dipastikan tak sebegitu indah. Semua memang berawal dari harapan, harapan yang membawa kita dalam indah dunia atau bahkan jurang dunia. Tak ada yang tau ujung dari harapan yang kita tanam, semuanya mengalir bagai air dan harapan itu kian pasti alirannya saat kita telah lelah berusaha dan dapat dipastikan jurang dunia yang kita temukan. Dan bila tetap terus mengikuti arah air, apakah akan sampai pada indah dunia? Dan masih tak dapat dipastikan itu. Karena nyatanya, aku pernah mengikuti aliran air itu, dan pada akhirnya aku hanya terjerat dalam sebuah jurang yang mengikat dan membuatku benar-benar terjebak didalamnya. Hingga butuh bertahun-tahun lamanyanya untuk keluar dari sana. Dan saat aku memulai semuanya dari awal ,mulai memupuk setiap detail harapan-harapan baru. Saat itu pula aku selalu dan mungkin kan selalu melihat jurang dunia. Entah kapan, aku bisa melihat indah dunia ini. Yang aku tahu kini aku semakin takut untuk berharap pada apapun itu.
Aku tahu tak mungkin hidup tanpa harapan, mungkin bagai angin. Yang bebas berarah kesana kemari tanpa tujuan yang pasti. Dan seperti itulah hidup tanpa harapan. Tapi harapan itu yang kini kian membuatku semakin takut untuk kembali berharap. Bukan karena takut harapan itu tak kunjung membawaku pada indah dunia, tapi karena aku terlalu takut menetapkan harapan itu kembali. Dan aku terlalu takut untuk kemudian bila sang waktu menyakitiku lagi dengan harapan-harapan yang kubuat. Dan nyatanya harapan itu memang hanya harapan yang takkan sebegitu indah seperti imajinasiku tentangnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar