Minggu, 19 Juni 2011

Disela Bayanganmu

        Setelah hari itu, aku masih saja menyelami isi hatiku sendiri. Masihkah aku mengharap kamu disini ataukah sudah hilang bayang indahmu yang dulu sempat singgah di hati ini? Masih saja tak mengerti karena kenyataannya kamu, dan kamu masih aja hadir menyelinap ke dalam sisi ruang hati yang paling dalam. Rasanya seperti telah bersemayam namamu di dalam sana. Hingga bagaimanapun aku paksa keluar nama itu masih tetap tak beranjak. Ingin aku lupakan, lupakan semua semua dan semua tentangmu, tapi lagi lagi aku GAGAL!!! Mengapa? Kamu sungguh tak ku kenal, kamu sungguh tak ku tahu, tapi lagi lagi aku tanyakan Mengapa? dan tak pernah bosan ku tanya Mengapa?
        Kamu yang mungkin tak sepertiku, disini terdiam, menangis, dan entah apa lagi yang bisa menggambarkan aku saat ini. Aku, aku yang kini hanya bisa menyalahkan diriku sendiri betapa bodohnya aku, aku yang menyayangimu, aku yang selalu yakin akan kamu kamu dan kamu. Dan semua ini hanya tentang kamu, kamu dan kamu. Mengapa begitu sulit menghilangkan satu nama saja? 
        Kini aku hanya bisa diam, tak mampu lagi bersuara tentang apa dan bagaimana kamu. Karena seberapa banyak pun aku bersuara kamu tak akan pernah bisa memahami itu dan seberapa keras pun aku berteriak tetap tak akan pernah kamu dengar itu.
        Pernah mencoba membagi hati untuk sekejap melupakanmu, bahkan berharap dapat melupakan semua tentangmu dengan semua bayangmu. Sekejap aku dapat melupakanmu dengan semua yang ada dalam dirimu. Tapi, aku manusia biasa yang masih memiliki hati dan ingatan. Dan aku kembali mengingatmu. Ingin kuhancurkan saja ingatan tentangmu ini. Hingga pada saat ku terlelap tak mengingatmu, aku tak perlu lagi kembali dan mengingatmu. Mencoba mengalihkan semua yang kurasakan pada orang lain, membuat semua tulisan yang tak lagi tentangmu. Tapi, aku tak bisa. Entah mengapa kamu, masih tetap selalu ada dalam setiap ingatanku. Dan entah tulisan-tulisan ini selalu mengalir begitu saja setiap ingat namamu. Ini salah, aku telah tegaskan dengan setegas-tegasnya bahwa kita tak mungkin lagi bersama, dan itu yang kini sangat kusesali. Mengapa kita tak bisa bertemu sejenak dan berbicara walau hanya untuk satu detik? Mengapa jarak selalu saja menjadi sebuah hambatan? Dan selalu menjadi dinding pemisah yang sangat tinggi.
        Sekuat apapun aku mencobanya, aku selalu gagal. Kamu terlalu berarti, entah mengapa sulit sekali menghapuskan namamu yang hanya terdiri dari tiga kata saja. Masih saja sering kupertanyakan semua itu.
Dan hari ini, sungguh sangat kusesali kata-kataku yang tak bisa lagi kutarik kembali semua itu. Sedih memang, kala kuingat aku melepas semua harapan tentangmu, melepas semua perasaan yang sungguhnya tak ingin ku lepas. Aku hanya tak ingin kamu merasa terbebani olehku. Walau memang semua ini menyakitiku, aku tak mengapa. Dan itu pikirku saat itu, tapi kini mengapa sangat kusesali semuanya. Salah, memang salah semua ini. Harusnya sudah kuhapus lekat-lekat semua ingatan itu. Tapi, aku tak bisa dan lagi-lagi tak pernah bisa. Karena sungguhnya yang ada di hatiku ternyata cuma kamu, dan kusadari benar hal itu saat ini dan entah sampai kapan kusadari semuanya.
        Kamu memang jauh untuk ku jangkau, hingga diawal dan akhirnya aku memang harus menghapus namamu yang semakin berat kurasa untuk melakukannya. Baru benar-benar aku rasakan kehilangan yang memilukan, bahkan cinta terdahulu pun terasa tak sesesak ini. Bila saja aku bisa bertemu denganmu, untuk sekejap berbicara sedikit tentang kita dari hati ke hati atau hanya untuk sekedar melihat senyummu. Tapi, mungkin kini yang mungkin itu tak lagi mungkin. Semua hal yang kuyakini benar tentangmu, lambat laun mulai memudar. Walau masih saja ku mencoba meyakini semuanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar