Klik klik klik…
Enter dan… Felanita Putri Ruswandi diterima di SMAN 28.
Sial… Aku sudah mengira ini sebelumnya. Aku tahu bahwa mungkin nilai UAN-ku ini tidak memenuhi syarat untuk masuk ke SMAN favorit selevel SMAN 3 . Dan kini aku harus menerima konsekuensi dari pilihanku. Sebenarnya ini bukanlah sekolah pilihanku tapi pilihan ayahku. Ah, aku telah membayangkan bagaimana hari-hariku nanti di sekolah yang sama sekali tidak aku inginkan itu.
Cepat-cepat ku klik tanda close di sudut kiri komputer dan mematikannya. Aku masih saja duduk lemas di lantai dan bersandar pada tembok warnet. Sesekali aku menghela nafas panjang. Aku tak ingin lekas pulang karena aku sangat tahu apa reaksi kedua orang tuaku ketika mereka tahu aku diterima di sekolah yang memiliki kredibilitas yang baik dan cukup favorit. Namun bagiku sekolah itu tak cukup baik dan favorit untuk menarik perhatianku. Setelah puas melamun, aku pun beranjak dari tempatku dan segera menuju kasir untuk membayar biaya internet yang aku pakai. Lalu aku menuju parkiran dan mulai melajukan sepeda motor ayahku yang aku pakai.
| * * | |||||
“Gimana Ka? Masuk kemana jadinya?” tanya mama dengan penuh antusias.
Aku hanya tertunduk lesu mendengar pertanyaan mama tadi.
“Kaka…” panggil mama, tapi kali ini dengan suara yang lebih datar, bahkan tanpa ekspresi.
Sekali lagi aku hanya tertunduk lemas dan menghela nafas panjang. Lalu aku menatap tajam mata mama dan langsung masuk kamar tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutku. Aku tahu mama pasti tidak suka dengan kelakuanku ini. Tapi aku lebih tidak suka lagi karena nyatanya aku masuk dan akan sekolah di tempat yang tidak aku sukai sama sekali. Dan itu karena mereka, orang tuaku, yang memilihkanku sekolah ini. Sial benar-benar sial.
Aku merebahkan tubuhku di atas kasur yang cukup empuk. Aku diam dan menatap langit-langit kamarku sambil memikirkan apa yang akan terjadi nanti, di tempat yang aku anggap bagai neraka itu. Pelan-pelan aku mulai memejamkan mataku dan mulai masuk kedalam dunia mimpi yang bebas berarah.
| * * | |||||
Tok tok tok
“Ka… Kaka… Ka” panggil mama sambil mengetuk pintu kamarku yang memang telah aku kunci sebelumnya.
Dengan mata yang masih sangat mengantuk, aku pun bangun dari mimpiku. Berjalan dan membuka pintu yang mungkin sudah sedari tadi mama ketuk.
“Kenapa ma? Huaaaa…” kataku dengan mata kantuk.
“Ka… ini udah sore loh… mandi dulu gih… masa udah gadis gini bau asem nanti kalau ada cowok yang mau apel ga jadi deh nyium bau kamu yang kayak gini. Udah sana mandi dulu!” perintah mama sambil membelai rambutku.
“Ia ma bentar lagi deh, 5 menit lagi tanggung ni nyelesain mimpinya dulu belum beres soalnya,” kataku polos.
“Hush ah… udah mandi dulu sana nanti keburu malem. Ga baik loh anak gadis mandi malem-malem. Udah sana mandi dulu mimpinya diterusin nanti malem aja. Ayo ayo!” pinta mama lagi.
Kini dengan langkah berat aku benar-benar membuka mataku yang masih kantuk ini dan pergi menuju kamar mandi.
| * * | |||||
Memang terasa lebih segar setelah mandi ini. Aku lekas membuka lemariku dan memilih piyama untuk aku pakai. Lalu setelah itu aku menyisir rambutku dan memakai sedikit bedak agar lebih terlihat udah mandi.
Aku melangkahkan kakiku keluar kamar dan menuju ruang keluarga di mana semuanya berkumpul. Ya sedikit tentang keluargaku. Aku anak pertama dari tiga bersaudara adikku yang pertama laki-laki bernama Fariza Putra Ruswandi dan adikku yang kedua perempuan bernama Finandia Putri Ruswandi. Mama cuma seorang ibu rumah tangga yang alih profesi menjadi seorang pengusaha catering, sedangkan papa seorang guru PNS di salah satu SMP di kota Bandung. Secara kasat mata, kami adalah keluarga yang sederhana dan harmonis. Padahal sebenarnya tidak. Bukan hanya aku, tapi juga kedua adikku yang mendapat tekanan dari papa. Papa sebenarnya baik, tapi sayang dia orang yang sangat perfectionis, protective bahkan mungkin over protective, disiplin, dan tidak pernah puas dengan hasil prestasi anak-anaknya. Setidaknya itu yang aku tangkap dari sosok papa. Tapi, di balik semua sikap buruknya padaku dan adik-adikku dia sesungguhnya hanya ingin yang terbaik bagi kami. Ini secarik kertas yang pernah aku temukan di tumpukan barang-barang yang sudah tak terpakai di lemari lama milik nenekku.
Curahan hatiku untuk buah hatiku yang pertama, Felanita Putri Ruswandi.
Anakku yang aku cintai
Sungguh hari ini adalah hari yang paling bahagia bagiku, ayahmu.
Setelah aku menununggumu selama sembilan bulan dalam rahim wanita yang paling aku cintai seumur hidupku.
Kini kau lahir dengan sangat sempurna, sangat cantik, dan aku sangat bersyukur akan hal itu.
Aku ini ayahmu, itu yang kelak harus kau tahu anakku.
Aku selalu ingin yang terbaik bagimu dan sesungguhnya itu yang harus kau tahu juga.
Aku mungkin bukanlah ayah yang kau inginkan, seperti yang kelak kau tahu juga.
Aku hanya seorang guru, guru yang nanti kelak kau tahu juga tak seberapa besar gajinya.
Namun percayalah anakku, sungguh telah aku siapkan dasar bagi perkembanganmu kelak.
Aku ingin kau tahu kelak bahwa semua yang aku lakukan itu untuk masa depanmu.
Aku tak ingin kelak kau rasakan apa yang aku rasakan hari ini.
Cukup aku dan ibumu yang merasakannya.
Tidak untukmu putriku. Akan kulakukan semua untukmu,
Agar kelak kau menjadi putri terbaik yang pernah aku miliki.
Bandung, 4 November 1992
Adam Ruswandi
Terbukti benar bahwa memang ayah bukan seperti yang aku kira. Setidaknya hanya saat aku membaca itu, setelahnya aku masih tetap pada pikiran awalku tentangnya. Karena aku pikir kertas itu ditulis 15 tahun yang lalu dan bukan tidak mungkin orang akan berubah bukan?
Aku masih tetap berdiri jauh di belakang sofa yang diduduki kedua orang tuaku dan adik perempuanku. Aku menghela nafas panjang sebelum akhirnya aku memutuskan untuk menghampiri mereka. Aku berjalan perlahan dan duduk di samping Nanda, panggilan adik perempuanku. Spontan Nanda, mama, dan papa melirik ke arahku, membuat aku risih aja.
“Kok pada liatin Kaka gitu sih?” Tanyaku risih.
“Ngga kok ga apa-apa.” Jawab papa gugup dan kembali melihat acara TV-nya lagi.
“Oh ia Ka, pertanyaan mama tadi belum di jawab.” Kata mama mengingatkan pertanyaan tadi pagi.
“Yang mana ma? Kan mama nanyanya banyak.” Kataku pura-pura nggak tahu.
“Yang kamu masuk mana jadinya?”
“Emang papa ga tahu, bukannya koneksi papa di sekolahanku banyak. Tanya aja sama papa, papa pasti tahu kok. Ia kan pa?” tanyaku pada papa.
“Mama pengennya kamu yang ngomong langsung” paksa mama.
“Di SMAN 28. Puasss!!!” jawabku ketus sambil lari kecil masuk ke kamar dan mengunci pintu.
Aku tahu papa dan mama berdebat di luar sana tentang aku. Tapi aku tak peduli, salah mereka kenapa dulu memaksaku untuk memilih sekolah itu. Dan konsekuensinya harus aku yang menerima, 3 tahun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar