Sebenanya ini masih libur, tapi ada suatu aturan di sekolahku bahwa untuk siswa yang baru masuk sepertiku harus melakukan suatu tes untuk menentukan kelas yang akan kita tempati kelak.
Malas, satu kata yang bisa menggambarkan perasaanku hari ini. Bukan hanya malas karena ini masih hari libur, tapi juga malas karena itu bukan sekolah yang aku inginkan.
“Ka, ayo cepet katanya masuk jam 8… Ini udah mau jam set.8 Ka… Mau berangkat jam berapa?” teriak mama.
“Ia ma bentar, lagi pake’ sepatu.” Kataku lemas.
Setelah semua siap, aku pun keluar kamar dan segera menuju meja makan sebelum mama ngomel-ngomel lagi.
“Kaka ini kan hari pertama masa mau telat sih?” Tanya mama sambil menyiapkan bekal makan siang, “Ni udah mama siapin bekel makan siang buat kamu, takutnya ntar sampe sore.” Lanjut mama.
“Tenang aja kali ma, kan sekolahannya deket 5 menit juga nyampe, ga usah dibikin ribet deh ma.” Kataku kesal.
“Terserah kamu deh,” kata mama mengalah.
Sial… Ini pasti hari sialku karena pagi-pagi gini udah harus perang mulut sama mama. Mama masih saja ribet menyiapkan makan siangku. Padahal kan aku udah SMA masa sih masih harus bawa bekel nasi, kan malu-maluin.
“Berangkat sekarang Ka?” Tanya papa.
“Ia berangkat sekarang aja, lama-lama disini bikin emosi meninggi.” Kataku sambil melirik mama. Mama yang menyadari bahwa dirinya menjadi bahan perbincangan langsung mengerutkan dahinya. Tanpa pikir panjang aku langsung meraih tangannya dan menciumnya.
“Kaka pergi ya maa… Assalamualaikum…”
“Waalaikum salam” jawab mama.
Berakhirlah tragedi sabtu pagi itu dengan kata yang menyejukan hati. Mobil papa pun melaju kencng di atas jalan beraspal.
| * | * |
Mobil kijang biru papa kini telah membawaku sampai di sekolahan yang ngga aku sukai. Benci. Dan semua kisah baruku akan mulai terangkai disini. Selama 3 tahun ke depan aku akan sering ke tempat ini. Huft, aku pun menghela nafas panjang saat mobil kijang biru ini berhenti di pintu gerbang sekolah. Aku masih duduk terdiam di dalam mobil lengkap dengan sabuk pengaman yang masih terpasang kuat. Aku lalu melihat-lihat ke arah sekolahku, banyak murid baru disana. Tampak raut wajah mereka menandakan bahwa mereka sangat senang sekolah disini (mungkin). Untuk kedua kalinya aku menghela nafas panjang namun kali ini aku melepas sabuk pengamanku dan membuka pintu mobil. Aku melihat papa, tapi dia hanya tersenyum menandakan bahwa ini akan baik untukku. Aku pun turun dengan langkah ragu, tapi sekali lagi aku lihat papa dengan senyumnya yang membuatku sedikit yakin untuk melangkah masuk.
Aku melangkah masuk lebih jauh dan melihat mobil papa masih disana. Aku meneruskan langkahku dan seseorang berseragam satpam menghampiriku.
“Murid baru kan?” Tanya satpam itu.
Ya iya lah murid baru. Mana ada sih murid lama dateng hari ini? Secara ini kan masih libur. Bego kali ya ini satpam.
“Ia pak” jawabku singkat.
“Itu liat dulu ke papan pengumuman, liat kelas tes nya dimana. Nanti baru langsung masuk cari kelas.” Terang pak satpam.
“Ia pak” ulangku.
Aku pun mengikuti instruksi sang satpam. Melihat papan pengumuman, mencari namaku, yupzz Felanita Putri Ruswandi ruang 4. Okey, tinggal cari kelasnya. Aku berjalan meyusuri tiap kelas mencari pintu yang tertera ruang 4. Dan, yupzz ketemu. Aku pun masuk dan OMG!!!
Sedikit ku ulas tentang kelasnya, pertama kali membuka pintu kesan pertama KOTOR. Sebenernya ini kelas apa TPS (Tempat Pembuangan Sampah)? Disini banyak berserakan sampah-sampah dan anak-anak yang udah dateng dari tadi, apa ga ada inisiatif gitu buat bersihin? Huft, terpaksa harus aku bersihin sendiri ni kayaknya (sok pahlawan). Aku mulai mencari peralatan piket, tapi di kelas ini ga ada satu pun peralatan piket bahkan satu sapu pun! Keterlaluan ini sekolah… Seharusnya mama dan papa lihat ini, jadi mereka tahu seberapa salahnya mereka memasukan aku ke sekolahan ini. Pantas saja dari tadi ngga ada yang inisiatif buat bersihin, ga ada sapu atau peralatan piket lain sih.
Huft, entah untuk keberapa kalinya aku menghela nafas panjang. Lalu, aku berjalan menuju bangku yang kosong di bagian depan. Maklum di SMP dulu aku selalu enggan untuk duduk di barisan belakang, aku selalu ingin duduk di bagian depan karena aku mudah untuk bertanya dan memahami pelajaran yang diberikan. Satu lagi alasan mengapa aku ingin duduk di depan? Karena duduk di bagian depan dapat mengurangi godaan mengobrol saat pelajaran. Sehingga aku bisa menyimak utuh pelajaran yang diberikan. Aku pun duduk di tempat yang aku kehendaki, ah kesan kedua untuk kelas ini adalah tempat duduknya. Ya Tuhan, kenapa aku harus sekolah disini yang ga ada bagus-bagusnya sama sekali. Lihat betapa berdebunya kursi dan meja ini. Aku tahu ini baru masuk jadi wajar, tapi apa panitia penerimaan murid barunya ga nyiapain hal sekecil ini?
“Hai, gue Realmalda. Bangku ini kosong ga? Gue boleh duduk disini?” kenal seorang cewek yang mengacaukan pikiranku tentang kelas ini.
“Hai juga, gue Felanita. Tapi loe bisa panggil gue Fela. Boleh kok duduk aja, kebetulan kursinya kosong.” Jawabku.
“Makasih ya, semoga nanti kita bisa satu kelas ya Fel,” harapnya.
“Ia semoga aja ya…?”
“Panggil gue Alsa aja.” Katanya yang tampak tahu kalau bingung tetang nama panggilan untuknya.
| * | * | ||||
Teng teng teng…
Tak lama setelah bel berbunyi seorang perempuan bertubuh agak gendut dan putih memasuki ruang kelas kami.
“Selamat pagi anak-anak!” sapanya lembut.
“Selamat pagi buuu!” sahut anak-anak.
“Pagi ini kita akan melakukan tes kemampuan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan kalian. Sehingga kami selaku pihak sekolah dapat mengelompokan kalian dalam kelas berbeda sesuai dengan kemampuan yang kalian miliki. Tes akan dilaksanakan selama 30 menit. Mengerti semuanya?”
“Mengertiii buuu!”
“Baik kalau begitu ibu akan mulai membagikan soalnya.”
Ibu itu pun membagikan kertas soalnya dan membiarkan kami mengerjakannya dengan hening.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar